Ketika orang berkubang dalam banjiran air mata
Kita berjumpa ria
Kita saling jatuh cinta
karena kita diantara penderitaandan kemegahan dunia mereka
Darah kita mengalir
Tapi kini kau begitu jauh
Jauh tak terengkah
Kebenua sana yang tak terjangkau
Angan dan harapan
Sia sia
Semua percuma
Setelah aku terbuang.
Lewat kangenku pada langit biru
Lewat rinduku pada pekik halilintar
Kukirim salam untukmu
Meski tinggal bayang-bayang semu
Atau aku yang selalu ragu
Ataukan jiwa ini yang terlalu layu
Rinduku padamu
Laksana pohon rindukan buahnya
Cintaku padamu
Kini terbawa angin lautan luas
Kulambaikan tangan perpisahan
Sambil mendekap dada yang terluka
Perih tak terkira….
Dan takkan putus harapan jika aku selalu mencintaimu
Selama masih dikandung badan…..
Sabtu, 01 Januari 2011
Dua Angsa
Kabarnya
Dua angsa lambang cinta
Gagak belambang duka
Ribuan mata terpaku
Melihatmu
Menatapmu
Angsa putih berenang
Entah bicara
Mereka kelihatan mesra
Orang orang terpesona
Menanjakan telinganya
Angsa putih…
Inilah aku
Menunggu waktu
Mencari cinta sejati
Sedang kau cuma berbakhti
Tak bisa padu
Cinta dan kasih antara dia dan daku
Dua angsa lambang cinta
Gagak belambang duka
Ribuan mata terpaku
Melihatmu
Menatapmu
Angsa putih berenang
Entah bicara
Mereka kelihatan mesra
Orang orang terpesona
Menanjakan telinganya
Angsa putih…
Inilah aku
Menunggu waktu
Mencari cinta sejati
Sedang kau cuma berbakhti
Tak bisa padu
Cinta dan kasih antara dia dan daku
Pen9Harap4n
Setangkai tulip putih
Kupersembahkan kepadamu,
Bukan sebagai tanda cinta
Dan juga lambang cinta
Kubiarkan dia sia sia
Biarlah dia tercampakkan
Asal bukan hatiku
Yang putus harapan
Setangkai tulip putih
Bukan tanda cinta
Karena cintaku padamu
Hanya sebatas saudara
Takkan kering dan layu
Oeh waktu beradu padu
Pengharapanku padamu
Kubiarkan abadi
Maka ijinkan aku untuk menyayangimu
Tak lebih seorang kakak
Kupersembahkan kepadamu,
Bukan sebagai tanda cinta
Dan juga lambang cinta
Kubiarkan dia sia sia
Biarlah dia tercampakkan
Asal bukan hatiku
Yang putus harapan
Setangkai tulip putih
Bukan tanda cinta
Karena cintaku padamu
Hanya sebatas saudara
Takkan kering dan layu
Oeh waktu beradu padu
Pengharapanku padamu
Kubiarkan abadi
Maka ijinkan aku untuk menyayangimu
Tak lebih seorang kakak
Kamis, 30 Desember 2010
BUNDA
Sembilan bulan sepuluh hari lamanya
Dari rahim menjadi janin berada
Janin muda
Pengorbanan tak terkira
Dan aku lahir juga
Jasa bunda sejagat
Bercucuran keringat
Tetap semangat
Seiring dekapan hangat
Dengan kasih sampai hanyat
Bunda….
Ananda berharap tetap guna
Walau ananda hina dan dina
Selalu Ananda berusaha
Semoga bunda bahagia
Walau kasihku setetes air garam di samudra lepas
Dunia memang berbeda
Tak selalu mesti bersama
Bunda tetap di jiwa ananda
Raga ananda
Juga jiwa bunda
Karangan bunga kamboja….
Ukiran bianglala
Lautan samudra hindia
Di tanah tumpah darah Indonesia
Intan permata
Kemegahan dunia
Tak seberapa
Bunda adalah bunda
Tiada yanglain
Yang kukerkenang sepanjang masa
Sepanjang hayat
Tak pernah ada riwayatnya
Dari rahim menjadi janin berada
Janin muda
Pengorbanan tak terkira
Dan aku lahir juga
Jasa bunda sejagat
Bercucuran keringat
Tetap semangat
Seiring dekapan hangat
Dengan kasih sampai hanyat
Bunda….
Ananda berharap tetap guna
Walau ananda hina dan dina
Selalu Ananda berusaha
Semoga bunda bahagia
Walau kasihku setetes air garam di samudra lepas
Dunia memang berbeda
Tak selalu mesti bersama
Bunda tetap di jiwa ananda
Raga ananda
Juga jiwa bunda
Karangan bunga kamboja….
Ukiran bianglala
Lautan samudra hindia
Di tanah tumpah darah Indonesia
Intan permata
Kemegahan dunia
Tak seberapa
Bunda adalah bunda
Tiada yanglain
Yang kukerkenang sepanjang masa
Sepanjang hayat
Tak pernah ada riwayatnya
Puisi Sahabat
Sahabat….
Telah kau daki bumi pertiwi
Gunung biru itu kemerdekaan
Meraih pelita harapan
Roda kehidupan masa depan
Menuju kecerahan
Sahabat…
Rindu hati ingin bertemu
Walau mentari telah berlalu
Dalam paruh waktuku
Ku tetap menunggu
Sahabat…
Ketika hati ini linglung
Jeritan Adzan berkumandang menghiburku
Dikau menggerakkan tangan mungil dengan mutiara suci
Ke Surau kecil beratap tresula
Hingga raga ini tenang
Telah kau daki bumi pertiwi
Gunung biru itu kemerdekaan
Meraih pelita harapan
Roda kehidupan masa depan
Menuju kecerahan
Sahabat…
Rindu hati ingin bertemu
Walau mentari telah berlalu
Dalam paruh waktuku
Ku tetap menunggu
Sahabat…
Ketika hati ini linglung
Jeritan Adzan berkumandang menghiburku
Dikau menggerakkan tangan mungil dengan mutiara suci
Ke Surau kecil beratap tresula
Hingga raga ini tenang
Selamat Jalan Friza……..

Dulu kebersamaan itu ada
Sekarang kuhidup sebatang kara
Sohib…
Tak da lagi bubur menjadi nasi
Harapan hampa
Hanyalah kenangan yang ada di kalbuku
Semua hangus
Pedang mulai memamerkan kilatnya
Memotong waktu
Menghapus dan merebut kebahagiaan kita sohib
Kapanku harus bertemu
Kapan ku harus bisa memelukmu
Sedang engkau sudah ditelan bumi
Air matamulah yang bisa kurindukan untuk mengenangmu
saat detik terakirmu tiba
Kau terbaring lunglai di bangsal misterius itu
Melepas boneka mungil dariku
Meninggalkanku termangu
Itulah kenanganmu
Sohib…..
Semoga kau bahagia
SELAMAT TINGGAL SOHIB!!!!!!!!!!!!!
CINTAKU

Kutanam senyumku direlung hatimu kasih;
Lembut nian akan senyummu
Awan biru trus menanti sang bayu
Menuju sinar harapan
Kasih……
Hidup itu sebuah jembatan
Jika terus terlewati
Hidup kita indah
Jikatak bisa melampauinya
Berarti kita gagal
Kasih…..
Jika suatu hari kau merindukanku
Ambillah setangkai bunga mawar yang merekah segar
Ciumlah dan resapilah dalam dalam
Kau bingkai lukisan bunga itu di hatimu
Kau perhatikan dengan kidmad
Itulah lambang cintaku padamu
Langganan:
Postingan (Atom)
